Remaja, Zat Besi, dan Masa Depan: Ancaman Anemia pada Remaja Putri

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang masih menjadi perhatian besar, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi yang terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada dibawah batas normal, sehingga tubuh kekurangan pasokan oksigen. Menurut WHO, kadar hemoglobin normal untuk wanita dengan usia diatas 15 tahun yakni >12,0 g/dl (>7,5 mmol). Gejala umum anemia muncul akibat berkurangnya pasokan oksigen ke organ-organ tubuh serta merupakan respons kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar hemoglobin, yang dapat terjadi pada semua jenis anemia. Gejala umum anemia meliputi kelelahan dan kelemahan, sesak napas, kulit pucat, pusing atau sakit kepala, dan mata berkunang-kunang.

Di Indonesia, angka kasus anemia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Kemenkes RI tahun 2018, angka prevalensi anemia pada remaja berusia 15-24 tahun mencapai 32%, yang berarti 3 sampai 4 dari 10 remaja mengalami kondisi ini. Jika dibandingkan dengan remaja laki-laki, risiko anemia pada remaja putri jauh lebih besar (27,2% vs 20,3%). Faktor biologis seperti menstruasi, pola makan rendah zat besi, serta kebiasaan diet menjadi penyebab utamanya. 

Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan adanya penurunan prevalensi anemia secara nasional menjadi 15,5% pada kelompok usia 15-24 tahun. Meski demikian, angka kejadian anemia di kalangan remaja putri masih tergolong cukup tinggi, terutama pada usia 15-19 tahun yang mencapai 30,44%

Apa saja sih dampak anemia pada remaja putri?

Dampak anemia pada remaja putri bukan hanya membuat tubuh terasa lemah, tetapi juga dapat berdampak serius dalam jangka panjang, seperti :

1. Gangguan konsentrasi dan penurunan prestasi belajar.
2. Menurunnya data tahan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit.
3. Kelelahan fisik yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
4. Gangguan kesehatan reproduksi di masa mendatang.
5. Risiko komplikasi saat kehamilan jika anemia tidak tertangani sejak dini.
Dengan kata lain, anemia pada remaja putri tidak hanya mempengaruhi kesehatan sekarang, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup dan generasi berikutnya.

Untuk menurunkan angka prevalensi anemia, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain :
1. Konsumsi makanan kaya akan zat besi seperti daging merah, hati ayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.
2. Perbanyak asupan vitamin C agar penyerapan zat besi lebih optimal.
3. Hindari diet ekstrem dan terapkan pola makan seimbang.
4. Ikuti program TTD (Tablet Tambah Darah) di sekolah secara rutin.
5. Tingkatkan edukasi gizi melalui penyuluhan di sekolah dan keluarga.
Program TTD menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam menekankan prevalensi anemia. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi konsumsi dan peningkatan pengetahuan gizi.

KESIMPULAN
Prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia masih tergolong tinggi, meskipun ada tren penurunan secara nasional. Dari data Riskesdas 2018 menunjukkan angka 32%, sedangkan SKI 2023 mencatat 15,5%. Namun, di kelompok usia 15-19 tahun, angkanya masih mencapai 30,44%, yang menunjukkan bahwa masalah ini belum sepenuhnya teratasi.

Peran edukasi gizi, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, serta pola makan seimbang sangat penting dalam mengatasi anemia pada remaja putri. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan dibutuhkan agar upaya pencegahan lebih efektif.

REFERENSI
Asriyanti, R., Azrimaidaliza, Elda, F., & Dwinatrana, K. (2024). Program Pemberian Tablet Fe di Sekolah dan Penurunan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Kota Padang. Amerta Nutrition, 8(3), 1-8.
https://doi.org/10.20473/amnt.v8i3SP.2024.16

Novita Sari, E (2020). Novita Sari, Eka 2020. “Open Acces Acces.” Jurnal Bagus 02(01): 402-6. Jurnal Bagus, 02(01), 402-406.


Komentar